Kamis, 22 Mei 2014

KONSEP SEHAT - SAKIT BERDASARKAN DAERAH PAPUA





Nama   : Rispa Ayu Astuty




NIM     : 70200113098




Kelas   : Kesmas C / II




 




KONSEP SEHAT – SAKIT BERDASARKAN DAERAH ASAL




(PAPUA)




 




A.     Persepsi Budaya Masyarakat Papua Terhadap Konsep Sehat – Sakit




Orang Papua berdasarkan kajian-kajian etnografi mempunyai keanekaragaman kebudayaan yang terdiri dari berbagai suku bangsa. Tidak hanya itu saja pada keanekaragaman kebudayaan, tetapi dalam unsur kebudayaan mempunyai keanekaragaman berbeda satu sama lain. Orang Papua juga sebagai  suatu kelompok masyarakat yang mempunyai seperangkat pengetahuan, nilai, gagasan, norma, aturan sebagai konsep dasar dari kebudayaan, akan mewujudkan bentuk-bentuk perilakuknya dalam kehidupan sosial dalam mempersepsikan konsep sehat – sakit secara kongkrit berbeda dengan etnik lain.




Dengan demikian keanekaragaman budaya yang ada di dalam masyarakat mencerminkan juga keanekragaman persepsi terhadap konsep sehat – sakitnya, yaitu :




1.      Orang Moi di sebelah utara kota Jayapura mengkonsepsikan sakit sebagai gangguan keseimbangan fisik apabila masuknya kekuatan alam melebihi kekuatan manusia. Gangguan itu di sebabkan oleh roh manusia yang merusak tubuh manusia (Wambrauw, 1994). Hal ini berarti, bahwa bagi orang Moi yang sehat, ia harus selalu menghindari gangguan dari roh manusia tersebut dengan menghindari diri dari tempat-tampat dimana roh tersebut berada misalnya tempat keramat, kuburan, hutan larangan, dan sebagainya. Karena kekuatan-kekuatan alam itu berada pada lingkungan-lingkungan yang menurut adat mereka merupakan tempat pantangan untuk dilewati sembarangan. Biasanya untuk mencari pengobatan, mereka pergi ke dukun, atau mengobati sendiri dengan pengobatan tradisional atau melalui orang lain yang dapat mendiagnosa penyakitnya (dukun akan mengobati kalau hal itu terganggu langsung oleh roh manusia).




2.      Orang Biak Numfor mengkonsepsikan penyakit sebagai suatu hal yang menyebabkan terdapat ketidak seimbangan dalam diri tubuh seseorang. Hal ini berarti adanya adanya kekuatan yang diberikan oleh sesorang melalui kekuatan gaib karena kedengkiannya terhadap orang tersebut (Wambrauw, 1994).




 




B.      Penyakit Malaria Di Papua




Papua adalah salah satu wilayah di Indonesia yang terkenal rawan malaria. Tidak heran karena di sana nyamuk masih sangat banyak terutama di daerah-daerah dekat rawa dan dekat hutan. Papua masih memiliki area hutan berjuta-juta hektar dan sebagian dari dataran rendahnya juga merupakan hutan rawa, tempat seperti itu merupakan habitat yang disukai oleh nyamuk terutama nyamuk penyebab malaria (anopheles). Dan nyamuk-nyamuk yang ada di papua terkenal ganas dan besar-besar. ­­­­­




Menurut masyarakat papua untuk mencegah terkena malaria dianjurkan untuk memakan makanan yang memiliki nilai gizi yang seimbang dan tidak lupa sering-sering makan sayur daun pepaya. Di menu makan masyarakat papua yang paham akan kesehatan, selalu disediakan menu yang salah satunya sayur daun pepaya. Masyarakat papua bisa meracik sayur daun pepaya itu menjadi tidak pahit. Selain sayur daun pepaya, air rebusan akar pohon kelapa juga dapat diminum untuk mencegah malaria.
Ada tumbuhan lain yang menurut bahasa setempat disebut dengan manspai, yang untuk keperluan pencegahan malaria diambil pucuk tunasnya lalu dicuci dan dimakan. Manspai ini nama ilmiahnya adalah Rhus taitensis. ­




 




C.      Pengobatan Terhadap Penyakit Malaria




Untuk mengobati malaria ada beberapa jenis tumbuhan yang dipakai sebagai bahan dasarnya. Salah satunya adalah pohon yang dalam bahasa setempat disebut anas. Tumbuhan ini berupa perdu yang banyak dijumpai di pantai, daunnya agak menyerupai daun tembakau dan bagian tengah batangnya berupa jaringan gabus. Untuk mengobati malaria dapat digunakan daunnya, atau batangnya atau akarnya ataupun buahnya tetapi dipergunakan sendiri-sendiri. Jika daun yang digunakan maka daun itu direbus dan air rebusan itu yang diminum untuk mengobati malaria. Jika akar yang dipakai maka akar diparut dan diberi air matang lalu diperas, dan air perasan itu yang diminumkan ke penderita malaria. Kulit batangnya juga dapat digunakan dengan cara direbus dan air rebusan itu diminumkan ke penderita malaria. Bisa juga buahnya dimakan untuk mengobati malaria.




Daun tumbuhan yang nama lokalnya samparyer atau nama ilmiahnya Glochidion sp. juga mereka manfaatkan untuk mengobati malaria, caranya adalah daun direbus dan airnya diminum. Tumbuhan ini berupa perdu yang tidak terlalu tinggi, daunnya majemuk berseling.




Yaren atau yerem yang nama ilmiahnya Alstonia scholaris juga dapat dimanfaatkan untuk obat malaria. Caranya adalah diambil kulit batang yaren lalu direbus dan airnya diminum.




Tumbuhan yang lain yaitu yang namanya belakang babiji. Untuk mengobati malaria diambil akar tumbuhan ini lalu direbus dan air rebusannya diminumkan kepada penderita malaria. Masih ada satu lagi tumbuhan yang berkhasiat untuk mengobati malaria yaitu inggamimes. Caranya adalah batang inggamimes ditumbuk, lalu diberi air dan diperas, air perasan itulah yang diminumkan ke penderita malaria.




Memang kebanyakan dari ‘resep’ tradisional Papua ini umumnya sangat sederhana, formulanya hanya terdiri satu jenis tumbuhan saja, dan tidak ditentukan dosisnya secara tepat, sehinga biasanya hanya berdasarkan pengalaman saja. Kadang-kadang antara satu dukun dengan dukun yang lain ada sedikit perbedaan dalam menentukan banyaknya bahan yang diperlukan untuk mengobati penyakit yang sama. Berbeda dengan obat modern, dimana dosis yang diberikan sudah ditentukan dan dalam pemakaiannya sebaiknya tidak melampaui dosis maksimal yag diperbolehkan.




 




 




 




D.     Pengobatan Di Papua




Berdasarkan pemahaman kebudayaan orang Papua, dapat dianalisis bagaimana cara-cara melakukan pengobatan secara tradisional. Untuk itu telah diklasifikasikan pengobatann tradisional orang Papua kedalam enam pola pengobatan, yaitu:




1.      Pola Pengobatan Jimat. Pola pengobatan jimat dikenal oleh masyarakat di daerah kepala burung terutama masyarakat Meibrat dan Aifat. Prinsip pengobatan jimat, menurut Elmberg, adalah orang menggunakan benda-benda kuat atau jimat untuk memberi perlindungan terhadap penyakit. Jimat adalah segala sesuatu yang telah diberi kekuatan gaib, sering berupa tumbuhtumbuhan yang berbau kuat dan berwarna tua.




2.      Pola Pengobatan Kesurupan. Pola kesurupan dikenal oleh suku bangsa di daerah sayap burung, yaitu daerah teluk Arguni. Prinsip pengobatan kesurupan adalah seorang pengobat sering kemasukan roh/mahluk halus pada waktu berusaha mengobati orang sakit. Dominasi kekuatan gaib dalam pengobatan ini sangat kentara seperti pada pengobatan jimat.




3.      Pola Pengobatan Penghisapan Darah. Pola penghisapan darah dikenal oleh suku bangsa yang tinggal disepanjang sungai Tor di daerah Sarmi, Marindanim, Kimaam, Asmat. Prinsip dari pola pengobatan ini adalah bahwa penyakit itu terjadi karena darah kotor, maka dengan menghisap darah kotor itu, penyakit dapat disembuhkan. Cara pengobatan penghisapan darah ini dengan membuat insisi dengan pisau, pecahan beling, taring babi pada bagian tubuh yang sakit. Cara lain dengan meletakkan daun oroh dan kapur pada bagian tubuh yang sakit. Dengan lidah dan bibir daun tersebut digosok-gosok sampai timbul cairan merah yang dianggap perdarahan. Pengobatan dengan cara ini khusus pada wanita saja. Prinsip ini sama persis pada masyarakat Jawa seperti kerok.




4.      Pola Pengobatan Injak. Pola injak dikenal oleh suku bangsa yang tinggal disepanjang sungai Tor di daerah Sarmi. Prinsip dari pengobatan ini adalah bahwa penyakit itu terjadi karena tubuh kemasukan roh, maka dengan menginjak-injak tubuh orang yang sakit dimulai pada kedua tungkai, dilanjutkan ketubuh sampai akhirnya ke kepala, maka injakan tersebut akan mengeluarkan roh jahat dari dalam tubuh.




5.      Pola Pengobatan Pengurutan. Pola pengurutan dikenal oleh suku bangsa yang tinggal di daerah selatan Merauke yaitu suku bangsa Asmat, dan selatan kabupaten Jayapura yaitu suku bangsa Towe. Prinsip dari pola pengobatan ini adalah bahwa penyakit itu terjadi karena tubuh kemasukan roh, maka dengan mengurut seluruh tubuh penderita, maka akan keluar roh jahat dari dalam tubuhnya. Orang Asmat menggunakan lendir dari hidung sebagai minyak untuk pengurutan. Sedangkan pada suku bangsa Towe penyebab penyakit adalah faktor empirik dan magis. Dengan menggunakan daun-daun yang sudah dipilih, umunya baunya menyengat, dipanaskan kemudian diurutkan pada tubuh penderita.




6.      Pola Pengobatan Ukup. Pola ukup dikenal oleh suku bangsa yang tinggal di selatan kabupaten Jayapura berbatasan dengan kabupaten Jayawijaya yaitu suku bangsa Towe, Ubrup. Prinsip dari pengobatan ini adalah bahwa penyakit terjadi karena tubuh kemasukan roh, hilang keseimbangan tubuh dan jiwa, maka dengan mandi uap dari hasil ramuan daun-daun yang dipanaskan dapat mengeluarkan roh jahat dan penyebab empirik penyakit.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar