KONSEP SEHAT - SAKIT BERDASARKAN DAERAH PAPUA
Nama : Rispa Ayu Astuty
NIM : 70200113098
Kelas
: Kesmas C / II
KONSEP SEHAT – SAKIT BERDASARKAN
DAERAH ASAL
(PAPUA)
A.
Persepsi Budaya Masyarakat
Papua Terhadap Konsep Sehat – Sakit
Orang Papua berdasarkan kajian-kajian etnografi mempunyai
keanekaragaman kebudayaan yang terdiri dari berbagai suku bangsa. Tidak hanya
itu saja pada keanekaragaman kebudayaan, tetapi dalam unsur kebudayaan
mempunyai keanekaragaman berbeda satu sama lain. Orang Papua juga sebagai suatu kelompok masyarakat yang mempunyai seperangkat
pengetahuan, nilai, gagasan, norma, aturan sebagai konsep dasar dari
kebudayaan, akan mewujudkan bentuk-bentuk perilakuknya dalam kehidupan sosial
dalam mempersepsikan konsep sehat – sakit secara kongkrit berbeda dengan etnik
lain.
Dengan demikian keanekaragaman budaya yang ada di dalam
masyarakat mencerminkan juga keanekragaman persepsi terhadap konsep sehat –
sakitnya, yaitu :
1.
Orang Moi di sebelah utara kota Jayapura mengkonsepsikan
sakit sebagai gangguan keseimbangan fisik apabila masuknya kekuatan alam
melebihi kekuatan manusia. Gangguan itu di sebabkan oleh roh manusia yang
merusak tubuh manusia (Wambrauw, 1994). Hal ini berarti, bahwa bagi orang Moi
yang sehat, ia harus selalu menghindari gangguan dari roh manusia tersebut
dengan menghindari diri dari tempat-tampat dimana roh tersebut berada misalnya tempat
keramat, kuburan, hutan larangan, dan sebagainya. Karena kekuatan-kekuatan alam
itu berada pada lingkungan-lingkungan yang menurut adat mereka merupakan tempat
pantangan untuk dilewati sembarangan. Biasanya untuk mencari pengobatan, mereka
pergi ke dukun, atau mengobati sendiri dengan pengobatan tradisional atau
melalui orang lain yang dapat mendiagnosa penyakitnya (dukun akan mengobati
kalau hal itu terganggu langsung oleh roh manusia).
2.
Orang Biak Numfor mengkonsepsikan penyakit sebagai suatu hal
yang menyebabkan terdapat ketidak seimbangan dalam diri tubuh seseorang. Hal
ini berarti adanya adanya kekuatan yang diberikan oleh sesorang melalui
kekuatan gaib karena kedengkiannya terhadap orang tersebut (Wambrauw, 1994).
B.
Penyakit Malaria Di Papua
Papua adalah salah satu wilayah di Indonesia yang terkenal
rawan malaria. Tidak heran karena di sana nyamuk masih sangat banyak terutama
di daerah-daerah dekat rawa dan dekat hutan. Papua masih memiliki area hutan
berjuta-juta hektar dan sebagian dari dataran rendahnya juga merupakan hutan
rawa, tempat seperti itu merupakan habitat yang disukai oleh nyamuk terutama
nyamuk penyebab malaria (anopheles). Dan nyamuk-nyamuk yang ada di papua
terkenal ganas dan besar-besar.
Menurut masyarakat papua untuk mencegah terkena malaria
dianjurkan untuk memakan makanan yang memiliki nilai gizi yang seimbang dan
tidak lupa sering-sering makan sayur daun pepaya. Di menu makan masyarakat
papua yang paham akan kesehatan, selalu disediakan menu yang salah satunya
sayur daun pepaya. Masyarakat papua bisa meracik sayur daun pepaya itu menjadi
tidak pahit. Selain sayur daun pepaya, air rebusan akar pohon kelapa juga dapat
diminum untuk mencegah malaria.
Ada tumbuhan lain yang menurut bahasa setempat disebut dengan manspai, yang
untuk keperluan pencegahan malaria diambil pucuk tunasnya lalu dicuci dan
dimakan. Manspai ini nama ilmiahnya adalah Rhus taitensis.
C.
Pengobatan Terhadap Penyakit
Malaria
Untuk mengobati malaria ada beberapa jenis tumbuhan yang
dipakai sebagai bahan dasarnya. Salah satunya adalah pohon yang dalam bahasa
setempat disebut anas. Tumbuhan ini berupa perdu yang banyak dijumpai di
pantai, daunnya agak menyerupai daun tembakau dan bagian tengah batangnya
berupa jaringan gabus. Untuk mengobati malaria dapat digunakan daunnya, atau
batangnya atau akarnya ataupun buahnya tetapi dipergunakan sendiri-sendiri.
Jika daun yang digunakan maka daun itu direbus dan air rebusan itu yang diminum
untuk mengobati malaria. Jika akar yang dipakai maka akar diparut dan diberi
air matang lalu diperas, dan air perasan itu yang diminumkan ke penderita
malaria. Kulit batangnya juga dapat digunakan dengan cara direbus dan air
rebusan itu diminumkan ke penderita malaria. Bisa juga buahnya dimakan untuk
mengobati malaria.
Daun tumbuhan yang nama lokalnya samparyer atau nama
ilmiahnya Glochidion sp. juga mereka manfaatkan untuk mengobati malaria,
caranya adalah daun direbus dan airnya diminum. Tumbuhan ini berupa perdu yang
tidak terlalu tinggi, daunnya majemuk berseling.
Yaren atau yerem yang nama ilmiahnya Alstonia scholaris juga
dapat dimanfaatkan untuk obat malaria. Caranya adalah diambil kulit batang
yaren lalu direbus dan airnya diminum.
Tumbuhan yang lain yaitu yang namanya belakang babiji. Untuk
mengobati malaria diambil akar tumbuhan ini lalu direbus dan air rebusannya
diminumkan kepada penderita malaria. Masih ada satu lagi tumbuhan yang
berkhasiat untuk mengobati malaria yaitu inggamimes. Caranya adalah batang
inggamimes ditumbuk, lalu diberi air dan diperas, air perasan itulah yang diminumkan
ke penderita malaria.
Memang kebanyakan dari ‘resep’ tradisional Papua ini umumnya
sangat sederhana, formulanya hanya terdiri satu jenis tumbuhan saja, dan tidak
ditentukan dosisnya secara tepat, sehinga biasanya hanya berdasarkan pengalaman
saja. Kadang-kadang antara satu dukun dengan dukun yang lain ada sedikit
perbedaan dalam menentukan banyaknya bahan yang diperlukan untuk mengobati
penyakit yang sama. Berbeda dengan obat modern, dimana dosis yang diberikan
sudah ditentukan dan dalam pemakaiannya sebaiknya tidak melampaui dosis
maksimal yag diperbolehkan.
D.
Pengobatan Di Papua
Berdasarkan pemahaman kebudayaan orang Papua, dapat
dianalisis bagaimana cara-cara melakukan pengobatan secara tradisional. Untuk
itu telah diklasifikasikan pengobatann tradisional orang Papua kedalam enam
pola pengobatan, yaitu:
1.
Pola Pengobatan Jimat. Pola pengobatan jimat dikenal
oleh masyarakat di daerah kepala burung terutama masyarakat Meibrat dan Aifat.
Prinsip pengobatan jimat, menurut Elmberg, adalah orang menggunakan benda-benda
kuat atau jimat untuk memberi perlindungan terhadap penyakit. Jimat adalah
segala sesuatu yang telah diberi kekuatan gaib, sering berupa tumbuhtumbuhan
yang berbau kuat dan berwarna tua.
2.
Pola Pengobatan Kesurupan. Pola kesurupan dikenal oleh
suku bangsa di daerah sayap burung, yaitu daerah teluk Arguni. Prinsip
pengobatan kesurupan adalah seorang pengobat sering kemasukan roh/mahluk halus
pada waktu berusaha mengobati orang sakit. Dominasi kekuatan gaib dalam
pengobatan ini sangat kentara seperti pada pengobatan jimat.
3.
Pola Pengobatan Penghisapan Darah. Pola penghisapan
darah dikenal oleh suku bangsa yang tinggal disepanjang sungai Tor di daerah
Sarmi, Marindanim, Kimaam, Asmat. Prinsip dari pola pengobatan ini adalah bahwa
penyakit itu terjadi karena darah kotor, maka dengan menghisap darah kotor itu,
penyakit dapat disembuhkan. Cara pengobatan penghisapan darah ini dengan
membuat insisi dengan pisau, pecahan beling, taring babi pada bagian tubuh yang
sakit. Cara lain dengan meletakkan daun oroh dan kapur
pada bagian tubuh yang sakit. Dengan lidah dan bibir daun tersebut
digosok-gosok sampai timbul cairan merah yang dianggap perdarahan. Pengobatan
dengan cara ini khusus pada wanita saja. Prinsip ini sama persis pada
masyarakat Jawa seperti kerok.
4.
Pola Pengobatan Injak. Pola injak
dikenal oleh suku bangsa yang tinggal disepanjang sungai Tor di daerah Sarmi.
Prinsip dari pengobatan ini adalah bahwa penyakit itu terjadi karena tubuh
kemasukan roh, maka dengan menginjak-injak tubuh orang yang sakit dimulai pada
kedua tungkai, dilanjutkan ketubuh sampai akhirnya ke kepala, maka injakan
tersebut akan mengeluarkan roh jahat dari dalam tubuh.
5.
Pola Pengobatan Pengurutan. Pola pengurutan
dikenal oleh suku bangsa yang tinggal di daerah selatan Merauke yaitu suku
bangsa Asmat, dan selatan kabupaten Jayapura yaitu suku bangsa Towe. Prinsip
dari pola pengobatan ini adalah bahwa penyakit itu terjadi karena tubuh
kemasukan roh, maka dengan mengurut seluruh tubuh penderita, maka akan keluar
roh jahat dari dalam tubuhnya. Orang Asmat menggunakan lendir dari hidung
sebagai minyak untuk pengurutan. Sedangkan pada suku bangsa Towe penyebab
penyakit adalah faktor empirik dan magis. Dengan menggunakan daun-daun yang
sudah dipilih, umunya baunya menyengat, dipanaskan kemudian diurutkan pada
tubuh penderita.
6.
Pola Pengobatan Ukup. Pola ukup dikenal oleh
suku bangsa yang tinggal di selatan kabupaten Jayapura berbatasan dengan
kabupaten Jayawijaya yaitu suku bangsa Towe, Ubrup. Prinsip dari pengobatan ini
adalah bahwa penyakit terjadi karena tubuh kemasukan roh, hilang keseimbangan
tubuh dan jiwa, maka dengan mandi uap dari hasil ramuan daun-daun yang
dipanaskan dapat mengeluarkan roh jahat dan penyebab empirik penyakit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar